MENJUNJUNG TINGGI ISLAM
Buya Kiayi Dmaluddin Ahmad Al Buny
" Wahai orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, tentu Allah akan menolongmu, dan mengokohkan langkah-langkahmu."
(QS.Muhammad: 7)
Manusia muslim, yang membela agama Allah, akan mendapatkan ketetapan jiwa dan keteguhan pendirian. Jiwanya mantap, teguh pendiriannya. Seorang hamba muslim, ketika menjalankan, mememikirkan dan mengamalkan agamanya, selalu ditunaikan dengan sungguh-sungguh. Perilakunya selalu berdasarkan sumber-sumber otentik ajaran Islam. Dilaksanakan ajaran Islam itu di semua ketika dan saat, Ia tidak menjual prinsip hidupnya dengan benda duniawi, dan tidak mengambil keuntungan ketika prinsipnya terdesak dihadapan lawan. Ia juga tidak mengamalkan ajaran agamanya dengan rasa keterpaksaan dan membiarkan dirinya terlontar di atas kepentingan yang tidak jelas. Ia tidak mencampur baurkan antara kebenaran dan kebatilan atau memberi samaran yang tidak jelas pada ajaran ajaran yang sudah nyata dalil aqli dan naqlinya. .
Melancarkan pembelaan.
Seorang muslim yang yakin akan kebenaran agamanya tidak akan meninggalkan kebenaran itu, bahkan kokoh menggenggamnya dengan taruhan. Walaupun ketika genggaman itu dipegang erat-erat , banyak rintangan yang menghadangnya, namun genggaman itu tetap kokoh dan sangat erat. Karena bagi seorang muslim menggenggam erat ajaran agamanya menjadi perjalanan yang menyenangkan walaupun menghadapi rintangan dan kesulitan. Karena dalam kesulitan itulah ditemukan kemenangan dan kebahagiaan.
Muhammad Saw menegaskan sikap tersebut dalam sabda beliau: "Genggam erat-erat kebenaran itu walaupun di saat itu engkau menghadapi rintangan, karena dalam kesulitan itu ada kemenangannya." (HR. Ibnu Abid Dunya dalam Jami’us Shaghir Imam Suyuty, hadist no 3252.)
Seorang hamba yang mendapat pendidikan Islam dengan sunguh-sungguh, akan sadar bahwa cara membela agama adalah dengan menegakkanya. Ia pun sadar bahwa meninggalkan sebagaian saja ajaran agama Islam, berarti telah mengurangi kebenaran dan kesucian agama itu di muka bumi. Berpegang teguh kepada ajaran Islam adalah satu keberkatan yang merupakan izin Allah. Ia selalu berharap dan berusaha memperoleh rahmat dari yang Maha Kasih. Karena kasih sayang Allah Swt, menjadi ridha yang mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Mementingkan pembelaan terhadap agama Allah adalah jalan menuju surga. Dengan berpegang teguh kepada agama, kegelisahan akan hilang, kesedihan akan lenyap, dan cahaya mendapatkan petunjuk semakin bertambah terang.
Rasulullah saw bersabda yang artinya kurang lebih: "Barang siapa yang akhiratnya selalu mengidupkan pikiranya, maka Allah akan mengihdupkan kebahagiaan agama itu di dalam hatinya, lalu melindunginya, dan dunia akan tunduk kepadanya. Sebaliknya, siapa yang dunianya membebani pikiranya, sehingga kacau dan tumbuh kesusahan di depan matanya, maka ia akan tertutup dari lindungan Allah, ia pun tidak mendapatkan dunia kecuali yang di tetapkan untuknya."(H.R Tirmizi dari sahabat Anas).
Hanya ada satu pembelaan bagi keteguhan iman, tidak lain membela kebenaran Islam dan melahirkan dalam kehidupan. Memaparkan keindahan yang tersimpan dalam khazanah Islam kepada masyarakat.
Hasil dari keteguhan dan istiqamahnya seorang muslim, ia selalu melancarkan pembelaan terhadap iman Islamnya. Ia tidak membiarkan imannya digoncang oleh badai kehidupan dan pengaruh alam duniawi seperti faham-faham sekularis materialis. dan zionis serta faham yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Membela Islam tidak berarti membenarkannya tanpa argumentasi. Namun Islam di bela dan dipertahankan dengan jiwa besar dengan argumentasi aqli dan naqli. Seorang pembela Islam tidak tidak serta merta menolak faham dan pendirian lain, tanpa menguji kebenarannya terlebih dahulu. Menguji kebenarannya adalah dengan kebenaran yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Muhammad Saw, yang menjadi pedoman dasar bagi agama Islam dari masa ke masa.
Karena kekokohan iman adalah mutlak izin dari Allah. Dengan jiwa yang istiqamah seperti itu, akan hilang kesedihannya, awan redup yang menutup hatinya akan menjadi cerah dan kelak ia akan di masukan kedalam surga jannatun na’im.. Ia akan bergembira dengan Islam dan menempatkan Islam dalam hidupnya, sebagai kebahagiaan yang utuh.
Belum cukup bagi orang mukmin untuk dikatakan telah menjadi penolong agama Allah, sebelum mereka memenuhi syarat-syarat tertentu yang di kategorikan sebagai penolong.
Sayyid Qutub menjelaskan syarat-syarat tersebut sebagai berikut :
Tidak berprilaku syirik dan tetap Istiqamah.
Cinta hanya kepada Allah dengan menaatinya penuh kesungguhan hati
Tetap konsisten menjalankan hukum Allah dikala sempat atau sempit dalam semua aktivitas hidup lahir dan batin, gerak diam, ramai, sepi dan di mana saja.
Jangan berperilaku syirik.
Pernyataan yang konsekwen akan wujud tunggalnya Allah tidak lain dinyatakan dalam amal perbuatan yang menunjukkan sifat wahdiniyahnya Allah Rabbul Arsyil’adzim. Hubungan seorang Muslim dengan Al Khaliq pencipta alam semesta adalah hubungan yang telah ditetapkan dalam bentuk Aqidah yang kokoh atas kehendak Allah sendiri, bukan mengikuti kehendak dan rekayasa manusia sebagai makhluk.
Allah Al Wahidul Qahhar adalah zat Ahad yang tidak boleh ditandingkan, walapun hanya dinyatakan kemiripannya saja dengan makhluk ciptaanNya, atau dijadikan hanya sebagai perantara untuk menghubungkan diri dengan Allah Rabbul’alamin.
Allah Swt tidak dapat dibandingakan dengan benda-benda lainnya, Tidak dapat dipersamakan Maha Pencipta dengan ciptaannya. Menyamakan dengan benda-benda lainnya berarti melanggar hak-hak Allah yang bersifat Esa, tanpa embel-embel apa pun yang menyertainya. Apakah Allah itu, berupa dewa-dewi, ruhul kudus, raksasa yang ditakuti, atau bayang-bayang yang dihayalkan oleh manusia yang menyerupai Allah Rabbul A’la. Termasuk hayalan fisual yang di buat oleh pemimpin agama untuk memudahkan penyembahan, atau tipu daya para pemimpin spiritual agar dirinya tetap terpandang sebagai pemimpin suatu keyakinan. Seperti rekayasa ketuhanan yang di buat-buat oleh para Pendeta .Rekayasa ketuhanan Nabi Isa As, yang diangkat oleh Gereja menjadi Ilahiyah mereka, dan menempatkan Pendeta-pendeta atau tokoh-tokoh spiritual mereka, seperti Raja-raja dan Kaisar masa Romawi, Yunani dan Persia,atau juga semacam Fir’aun dan Namrudz, dengan pakaian kebesaran sekaligus mahkota di kepala, tongkat di tangan. Telah menempatkan Gereja sebagai suatu kekuasaan (kerajaan) tersendiri di muka bumi.
Sikap dan keyakinan seperti itu dikatagorikan sebagai keyakinan syirik, di tolak oleh Aqidah Tauhid Islam. Keyakinan seperti ini adalah kemasan keyakinan yang disamarkan untuk menghilangkan sifat Ahad Allah Swt . Islam menolak segala macam cara dan upacara yang mengajak kepada perbuatan syirik. Demikian juga memaksakan dominasi duniawiyah dalam upacara dan sikap keagamaan yang senagaja diadakan untuk kepentingan yang bertentangan hadirnya keimanan didalam sanubari manusia.
Penegasan Islam: Allahu Ahad, adalah sesembahan kamu, tidak ada sesembahan selain Dia yang Maha Esa, dan tidak ada yang sama dengan Dia.
"Huwal Awwalu Wal akhiru Wadzahiru wal batinu, wahuwa Bi kulli Sayain ‘alim."
(Dia adalah Allah yang awal dan akhir.ir dan batin, dan Dia dengan segala sesuatu Maha Mengetahui.)
Perilaku syirik di larang oleh Islam. Perbuatan seperti ini dibatalkan oleh keyakinan Tauhid Islam untuk selama-lamanya.
Hanya ada satu kecintaan.
Sesungguhnya Allah Ahadus Shamad menghormati seseorang yang didalam hatinya hanya ada Allah. Tetapi apabila dalam hatinya bercokol sesuatu selain Allah, maka rahmat akan tercabut dari jiwanya. Allah yang Maha Rahman hanya menolong dan merahmati orang yang jiwa dan hatinya berdiam nama Allah, serta terus menerus bibir dan lidahnya basah menyebut asma Allah Zul Jalali Wal Ikram.."
Pertolongan Allah barulah dianugerahkan kepada manusia. Bila manusia dan orang beriman teguh pendirianya berjihad membela ajaran Islam.
Jiwanya kokoh dan patuh menjalankan syariat agama. Berusaha semaksimal mungkin menerapkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari, dengan tidak mengecualikan hukum-hukum tertentu. Ia menjadi teladan dalam kehidupan yang jelas. (dikutip dari Fi Zilalil Qur’an, Syayid Qutub, juz VI, hal, 32288).
Menjalankan seluruh titah dan amar Allah, menunjukkan hanya ada satu kecintaan, yakni hanya kepada Allah Swt.
Menyangkut surah Muhammad Ayat 7 di atas, Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : "Pembalasan bagi orang yang berusaha membela agama, adalah keteguhan iman dan ketetapan pendirianya. Itulah perbuatan yang benar, dan pembalasan baginya adalah pahala yang setimpal."
Ketahuilah, wahai orang-orang yang berharap mendapatkan taufik dan inayah Allah, sesungguhnya membela agama merupakan dasar esensial yang dipikulkan keatas pundak serta mantap menjalankan ajaran-ajaran Islam. Keteguhan memikul tugas-tugas agama adalah tanda kecintaan yang abadi.
Rasulullah saw bersabda yang artinya: " Selalu akan ada kelompok umatku yang gigih membela yang hak, dan mereka mendapat kemenagan sampai hari kiamat. Disaat Isa bin Maryam turun, berkatalah para pemimpin mereka kepada Isa. Mari kita shalat berjama’ah. Isa menjawab : "tidak". "sebagian kamu adalah raja diantara kalian sendiri, Allah telah memuliakan umat ini." (H.R Ahmad dan Muslimin dari sahabat jabir).
Hai orang yang jiwanya kadang-kadang bebas lepas dan kadang terpenjara, inilah caranya agar kalian teguh memegang agama, yakni membela agama Allah . Peganglah ia erat-erat, niscaya jiwamu akan terlepas dari api neraka. Sungguh berbahagia orang yang menolong agama Allah, karena Dia, pasti akan menolong mereka.
"JIka kamu menolong agama Allah , niscaya Allah akan menolongmu."
Dijelaskan pula dalam ayat lain: " Allah pasti menolong orang-orang yang membela (menolong) agama-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Mulia."
Imam Muahmmad Asy-Syanqity dalam kitab Adawaaul Bayan Juz V, halaman 703, mengatakan bahwa dalam ayat diatas, Allah Swt bersumpah akan menolong orang-orang yang berupaya membela agama-Nya.
Orang yang menolong (agama) Allah adalah mereka yang mengikuti syariatnya, menegakan dan patuh kepada hukumNya, dan menegakan larangan-larangan-nya, menolong rasul-rasul-Nya, sehingga kaliamat-kalimat Allah sajalah yang unggul, dan usaha orang-orang kafir itu jatuh tersungkur dan berguguran.
Ayat-ayat tersebut juga merupakan janji Allah . Tidak hanya akan menolong orang mukmin yang selalu menepati shalatnya, membayar zakat, mengeluarkan infaknya, akan tetapi juga bagi mereka yang menyempurnakan ibadahnya melalui sikap amar makruf dan nahi munkar. Menegakkan kebenaran yang diajarkan Islam, bersikap mulia dan budi luhur, termasuk menghidupkan kemanusiaan dan hak-hak azasi manusia.
Sedangkan orang-orang mukmin yang telah diberi kemerdekaan (kebebasan) oleh Allah di muka bumi, mengambil kalimat-kalimat (Islam) sebagai ajaran mereka, bahkan menganugerah kekuasaan dan pemerintahan untuk mereka, tetapi mereka tidak mendirikan shalat, tidak menunaikan zakat, tidak beramar ma’ruf nahi munkar, maka mereka tidak akan mendapatkan janji dan pertolongan dari Allah, karena mereka tidak termasuk orang yang tidak berlindung di bawah syari’at kebenaran Islam.
Mereka termasuk orang yang mengambil keuntungan dari ajaran Islam, bersamaan dengan itu mereka menjegal ajaran itu sendiri. Tidak menjadikannya sebagai bagian dari perihidup yang wajib diamalkan. Mereka memperalat Islam untuk kepentingan diri sendiri dan paham politik yang mereka anut.
Hanya orang-oarang yang selalu dekat dengan Allah, bertanggungjawab atas amar dan laranganNya, menempatkan ajaran Islam sebagai bagian yang menjadi prinsip hidup, hanya mereka itu saja hamba-hamba yang akan memperoleh pertolongan Allah Rabbul ‘alamin.
Dalam lintasan hidup sebagai orang Islam,apabila kelak anda menagih janji dari Allah, maka ketahuilah bahwa janji Allah itu bukan untuk mereka yang lalai. Jangan berpengharapan ibarat seorang pekerja yang mengharapkan memperoleh upah, padahal sama sekali ia tidak pernah mengerjakan sesuatu. Ini adalah perbuatan orang-orang yang tidak berakal. Perhatikan bunyi kalimat berhikmah berikut ini.
Dalam kedamaiannya agama ini
membangun dirinya
dengan pimpinan mujahidin
dalam kesejatiannya yang Islami.
ia kokoh di atas tonggak Aqidah tauhid,.
menghimpunnya dalam ikatan suci.
menegakan kembali hati sanubari yang telah mati
Dengan cahaya Islam kebenaran abadi
penuh kedamain terkuak kembali
menjanjikan kemenangan dalam keteguhan iman
kokohnya pegangan terpateri
dalam kasih dan ukhuah abadi
Nabi Muhammad Saw, mrngingatkan dalam sabda beliau, yanga artinya:
"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam (membentuk) kasih sayangnya saling mengasihi dan saling membantu, adalah bagaikan tubuh yang satu, apabila salah satu anggotanya mengeluh kesakitan, maka seluruh anggota tubuh lainya turut pula mengeluh (Ikut sakit), sehingga seluruh tubuh merasa panas, demam dan tidak dapat tidur."
(H.R.Bukhari dari Nu’man bin Basyir)
Hidup yang konsisten.
Mereka juga beramar makruf nahi munkar, memberantas kerusakan dan segala macam bentuk kejahatan. Mereka tetap konsisten dengan semua perbuatan itu. Menjadi sifat utama orang-orang beriman. Sebab, sifat itu mendorong seseorang untuk tidak berdiam diri melihat kemunkaran, bila ia mampu untuk mengubahnya. Dia tidak berdiam diri berpangku tangan berbuat kebajikan dan menegakkan kebenaran Islam, bila ia mampu mengamalkannya. Mereka adalah hamba-hamba yang patut memperoleh pertolongan Allah karena konsekwen dalam menghidupkan sifat-sifat Islam dan konsisten menegakkan ajaran-ajarannya.
Mereka telah berdakwah untuk melepaskan manusia dari perbuatan syirik yang yang memperbudak diri manusia, melepaskan mereka dari perbudakan syirik yang merusak keyakinan yang benar. Mereka teguh pendiriannya mengajak serta menyadarkan manusia, bahwa yang patut disembah hanyalah Allah. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar mendapat pertolongan Allah, seperti yang dijanjikan.
Aqidah tauhid yang kokoh seperti diucapkan para Ulama’ adalah kekuatan yang yang sangat dahsyat bagi agama Islam untuk mempertahankan kemurniannya. Karena tanda kebenaran suatu keyakinan agama yang diwahyukan oleh Allah kepada para Rasul, adalah kemurnian Tauhidnya. Bergembiralah kamu wahai jamaah muslimin, walau jumlah kalian sedikit dan perlengkapanmu sangat terbatas, sedangkan musuh kalian kuat dan memiliki alat-alat penangkis dan penyanggah yang lengkap.
Hendaklah kalian ketahui, bahwa kalian berada dalam barisan yang kuat, karena kekuatan yang bertahta dalam jiwa kalian, dihidupkan dan dikokohkan oleh keatuan Tauhid yang tidak ada tandingannya. Dengan Tauhid itulah kalian menegakkan agama dan menghidupkan ruh jihad, Sebab penyerahan kalian kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat, Allah Al Wahidul Qahhar,.disitulah letaknya rahasia kekuatan kalian.
Maka, janganlah berkecil hati, karena penyerahan dan kebergantunganmu itulah yang memberi pertolongan dan kekuatan dahsyat untuk kemenangan Islam.
Janganlah lalai dari permohonan penuh pengharapan, agar kalian berada dalam kendali Allah Rabbul Jalil. Tanamlah makna agama dan nilainya dalam tubuhmu dan ruhmu. Besar kan hati dan jiwa keluargamu dengan agama Allah. Sebab kelak kalian tidak akan membawa apa pun dari hidup dunia yang sementara ini, kecualai penyerahan dan amal ibadahmu. Ikutilah jejak ulama-ulama saleh terdahulu. Ikuti semua yang di tuntun Rasulullah Muhammad Saw, karena itulah jalan keselamatan dan kemenangan.
Biasakan anggota tubuhmu selalu dalam keadaan taat, niscaya Allah Swt akan mengokohkan iman dan langkah-langkahmu, meneguhkan kalbumu memperkokoh keyakinan agamamu, sampai tiba waktunya maut itu datang menjemputmu."
Sudah siapkah anda wahai para pembela Islam ? Dengarlah seruan Al Qur’an agar menjadi "ansharullah" (penolong dan pembela agama Allah ), seperti diucapkan oleh Nabiyallah Isa As. Kepada beberapa muridnya (kaum Hawariyyin) ia berkata: "Man Anshari Ilallah", (Siapa yang akan menjadi penolong(pembela agama Allah bersamaku?) Maka serta merta para Hawariyin menjawab:"Nahnu Ansharullah!!!(kami inilah pembela agama Allah (yang akan bersamamu ).(Qs.As Shaf ayat 14.)